I received post card from my friend. She studied erasmus mundus program ^_^ :
Rabu, 20 Januari 2016
Post card from Japan and Thailand
Today i want to try writing in English. Since a material is very broad and many people also concern it on. Yeah I want to post about post card. I received 14 card until now, :) But for first time, i will publish it only from my friend first. They study in Japan and Thailand.
#postcrossing
These are cards :
#postcrossing
These are cards :
![]() |
| river market |
![]() |
| thai stamp of 15 Baht |
![]() |
| Periodic Table of chemistry |
![]() |
| 70 Japan Stamp |
![]() |
| This building at Hiroshima when its destroyed by bomb |
![]() |
| Stamp 80 |
Senin, 05 Januari 2015
Its a long journey
Curhat dikit ah,
Sewaktu sekolah di SMA Al-Muttaqin Tasikmalaya saya bercita-cita untuk dapat berkuliah jurusan perminyakan. Itu karena mahasiswa KMT yang saat itu promosi road show ke sekolah-sekolah. Itu loh kunjungan yang biasanya ditargetkan untuk kelas XII, tapi karena sekolah saya berpopulasi sedikit, jadilah semua dikerahkan untuk menyimak materi promosi. Senang sih jadi gak belajar hari itu dan bisa lihat teteh teteh mahasiswa yang cantik, hahaha. Maka sejak saat duduk di kelas X akhir, menyempatkan diri untuk ikut Try Out SPMB yang saat itu bertiket 10 ribuan, padahal saingannya kakak-kakak kelas XII, hehehe. Kelas XI dan XII pun berlanjut ikut try out, sampai musim road show ke sekolah-sekolah di kelas XII bisa tiap minggu ada terus, KMT ITB lah, Gerbatama UI, Permatagama UGM, Unpad, Unsoed, STAN, STT Telkom (sekarang Untel), serta KMC Ciamis. Alhamdulillah, dari semua try out itu belum pernah satu pun saya berhasil lolos passing grade, tapi ga kecewa-kecewa amat sih, dari try out itu bisa dapet stiker, pin, atau kumpulan soal SPMB, bisa juga kenalan kakak mahasiswanya biar bisa nebeng pas tes nanti, hahaha.
Penghujung SMA pun tiba, saatnya menentukan pilihan mau lanjut kemana. Sadar akan keadaan ekonomi, saya pun mencari celah beasiswa kuliah S1. Saat itu PTN sedang booming dengan istilah PTBHMN yang intinya sih pas saya SMA, fahamnya PTN tersebut subsidinya jadi kecil dari negara dan bisa mendatangkan pemasukan lain selain dari negara. Maka PTN pun berlomba membuka jalur-jalur khusus yang sumbangannya selangit buat saya pada kala itu.
Apa tidak ada celah ? Tentu tidak. ITB membuka jalur Beasiswa Penuh USM Terpusat, dan UGM sumbangannya juga bisa di-waived (syarat dan ketentuan berlaku). Untuk mewujudkan cita-cita itu, Jadiah saya ikut USM dengan pilihan berturut-turut FTTM, FITB, FMIPA (pilihan terakhir sebenarnya cari aman karna passing gradenya masuk akal, saya juga tidak berbakat di ilmu dasar –saat itu-). UM UGM memilih Teknik Geologi, Manajemen Sumber Daya Perikanan, Geografi Ilmu Lingkungan. PMDK ITS ke Teknik Kelautan (minyak offshore, padahal pas SMA ga ngerti jurusan itu ngapain). Talent Scouting Unpad ke Teknik Geologi. PMDK Teknik Perminyakan Usakti tapi ga sampe ngirim, karena daftarnya mahal, hehehe.
Hasilnya, ITS ga tembus. Unpad ga ada kabar. UGM masuk pilihan 2, ITB jebol pilihan 3. Masuk minyaknya ? engga, banting setir ? hmmmm
Pilihan pun berlabuh ke kampus gadjah doedoek. Alasannya sih masih paling dekat, biar dekat mudiknya dan ada saudara di Bandung. Saudara saya ini yang bahagia bingit saya bisa ke ITB, ga bayar lagi, hahaha. Selama tingkat satu, ada info ternyata bisa pindah jurusan asal TPB dan tingkat 2 nya baik, wah kesempatan nich bisa pindah ke perminyakan.
Eng Ing Eng, ternyata kuliah disini susah, bisa dapet C aja Alhamdulillah, TPB IP ane 2 koma, tingkat dua lumayan, tapi dengan IP segitu sepertinya ga bisa pindah jurusan ke minyak, hiks hiks.
Sudah tertutup dengan perminyakan? Tentu tidak, ternyata masih bisa memilih paket minor di jurusan yang bisa kita pilih (sampai sekarang belum ngerti minor itu gimana, masuk ijazahkah minornya). Tapi ternyata, di jurusan sendiri aja susah dan sibuk dengan praktikum, TP, jurnal,serta laporan. Minor perminyakan pun, dadah,... bye
Maret di tingkat akhir sebelum lulus, saya mencoba apply kampus perminyakan tersohor di negeri ladang minyak. Juli saya dinyatakan diterima, dan setahun kemudian dapat LoA resmi dan calling visa dari kerajaan. Sampai akhirnya saya Alhamdulillah bisa berkuliah di sini, tetangga Aramco. Meski pun bukan jurusan teknik perminyakan yang saya idamkan, disini akan terciprat minyaknya, at least dari nama kampusnya, hehehe.
Ibrohnya, janganlah kita berputus asa saat cita-citamu belum kau raih, istilah “kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda" ada benarnya loh. Buat yang merasa salah jurusan dan tersesat, berusahalah, jangan menutup kesempatan lain yang telah Allah buka di depan matamu, manfaatkanlah kesempatan yang ada sebaik-baiknya, cari celah terus. Berbaik sangkalah, dibalik ujian dan cobaan serta kesalahjurusanan, Allah telah menyiapkan yang terbaik bagi hambanya. Alhamdulillah.
Ahad, 31 Agustus 2014
Pinggir danau mesjid kampus King Fahd University of Petroleum & Minerals
Hari pertama kuliah
Kamis, 23 Januari 2014
Tentang Masuk ITB
Kali ini, saya akan bercerita kisah saya masuk ITB. Ya, ITB
siapa yang tidak tahu perguruan tinggi teknik the oldest and most prestigious
engineering campus. Meski tes masuknya saat ini telah berbeda dengan zaman saya
dahulu, tapi seenggaknya bisa dijadikan rujukan dan sejarah perkembangan masuk
perguruan tinggi.
Sambil menunggu kelulusan SMA, beberapa PTN telah membuka
penerimaan mahasiswa baru jauh sebelum pengumuman ujian nasional. Saya nyoba
PMDK ITS ke jurusan Teknik Kelautan, UM UGM daftar Teknik dan Pertanian, juga
USM ITB ke Teknik dan MIPA-nya. Masuk PTN tentu bukanlah hal yang gampang,
selain bersaing dengan peserta yang banyak, saya juga dihadapkan berbagai
cibiran. “Pengen masuk ITB ? Emang ranking berapa ?” itu salah saya pertanyaan
yang saya masih ingat. Track record keluarga saya yang memang tidak ada kuliah
mungkin latar belakangnya. Tapi, apa itu salah? Masbuloh, masalah buat loh,…
Tapi, keluarga sangat mendukung, ya bagaimana pun namanya
keluarga pasti ingin yang terbaik. Tes masuk ITS saya ga lolos, kayaknya karena
pas home visit saya tidak ada di rumah. UM UGM saya masuk di pilihan kedua,
Manajemen Sumber Daya Perikanan. Dan ITB masuk di FMIPA.
Masuk ITB, ini yang masih keinget sih. Saya beli formulir ke
gedung Annex dari Tasik naik bis Budiman pagi-pagi jam 8-an. Loket dibuka
sampai jam 2 siang. Budiman ternyata lumayan lelet kala itu dan saya sepanjang
jalan khawatir terlambat dan tidak bisa dapat formulir. Oia, sewaktu di bis
saya bertemu kang Dudi RS, tutor jurnalistik saya yang berjiwa muda banget.
Sesampainya di terminal Cicaheum saya nyari tempat fotokopian, kareda ada
beberapa berkas yang belum siap. Nyarinya cukup sulit, karena dekat sini tidak
ada sekolahan. Tempatnya agak jauh di depan. Kemudian saya lanjut dengan angkot
jurusan ledeng dan berhenti di tamansari. Kang Dudi berbeda jurusan, mau ke
Unpad DU naik Ciroyom.
Sesampainya di Annex, dicarilah loket pembelian formulir
USM. Saya pun diterima bapak yang baik, belakangan saya tahu dari kwitansinya
bernama M. Toha. Sebelum memperlihatkan berkas, saya dihebohkan dengan lupanya fotokopi
KTP orang tua, yang ternyata ketutup map di loketnya. Akhirnya setelah berkas
lengkap, saya serahkan dan membayar formulir 50.000 aja (aslinya formulir USM
500.000). Formulir pun saya dapatkan dan pulang ke Tasik untuk diisikan.
Sesampainya di Tasik, disambung naik angkot 05 dan entah
mengapa keluar jalur trayeknya dan diturunkan di alun-alun Tasik. Padahal
petang itu hujan, dan tidak bawa payung. Alhasil saya ke asrama SMA
hujan-hujanan. Dalam hati, ya Alloh, semoga formulirnya tidak kenapa-napa dan
mungkin ini awal perjuangan ujian dan pengorbanan masuk ITB (lebay juga sih).
Selesai pengisian formulir, saya kembalikan dan tukarkan
dengan kartu peserta ujian. Sebelum tes USM Terpusat ini, ada ujian USM Daerah.
Kawan sekelas yang juga tercantik di kelas saya kala itu, neng Linda Wulandari
ikut USM Daerah tetapi belum masuk. Darinyalah, saya dapet spoiler tesnya akan
seperti apa dan apa senjata yang harus dipersiapkan.
Saya pun ke ITB untuk bertarung merebut jatah kursi kuliah.
Saya di USM terpusat ini memilih FTTM, FITB dan FMIPA. Saya mengikuti ujian dengan
nebeng di kenalan anak ITB yang juga orang Ciamis, kang Araf Pratama Naim
(nuhun kang). Saya kenalnya pas try out KMC Galuh Taruna di Islamic Center. Sebelum
hari pertarungan, saya survey dulu tempatnya yang ternyata terletak di lantai 1
gedung planologi, cukup dekat dari depan kampus.
Hari tes itu pun tiba, entah kenapa harus berseragam SMA,
jadi tahu deh mereka dari mana aja. Luar biasa sekali kebanyakan dari Jakarta
dan Bandung. Mereka banyak yang dari sekolah yang sama. Derita gue cuma sendiri
ikut tes ini dang a ada temen ngobrol. Mau kenalan juga malu, soalnya saya dari
ndeso, kampong dan yang lain dari perkotaan. Pesertanya banyak banget sampai
SMA 1 Bandung juga jadi lokasi tes. Hari pertama kami diuji psikotes. Pilihan
ganda yang isinya tes potensi akademik. Ada menggambar yang 8 kotak, terus
menggambar seseorang tokoh (saya menggambar seorang ustadz, entah kenapa
kepikirannya itu), menggambar pohon mangga, dan menulis cita-cita ke depan mau
jadi apa kalo ga salah. Dan sesi akhir menjumlahkan angka Koran yang gede itu.
Tambah stress jika udah ada yang minta nambah kertas korannya itu.
Hari kedua kami di tes Matematika dasar, bahasa inggris
(sekelas TOEFL, reading-nya saintifik semua) dan MIPA terpadu (yang pilihannya
sampai J). MIPA terpadunya cukup sulit dan sangat konseptual untuk menjawabnya.
Sempet hopeless juga karena susahnya ini, malah beberapa peserta sudah nyerah,
tidak bisa menjawab sedangakan pengawas melarang untuk keluar. Akhirnya mereka
tidur saja. Tapi bagi saya, kala it uterus mencoba ngulik sebisa mungkin sampai
waktunya habis. Trik dari seorang guru untuk nembak menderet sepertinya tidak
bisa saya terapkan disini. Karena pilihannya sampai J, banyak pilihan, yang
berarti kebolehjadian jawabannya sangat sulit diprediksi. Yah, meski yang lain
berasal dari sekolah yang favorit, bisa bimbel dan bisa berusaha dengan uangnya
(beli buku, ikut les dll) dan saya tidak bisa dapat fasilitas seperti mereka,
tapi dengan bantuan guru-guru, kakak kelas yang mewariskan buku dan SSC
(Sekolah Saja Cukup). Saya selau yakin dan memegang prinsip saya punya Allah
yang akan selau membantu hambanya. Itu selalu jadi penenang jiwa, ketika sedang
down dan tidak yakin dengan diri ini.
Pengumuman itu pun tiba, Alhamdulillah saya masuk FMIPA ITB
dengan beasiswa penuh. Saya pun megambil kesempatan ini untuk menimba ilmu di
kampus Ganesha. Tempat yang juga Habibi, Soekarno, ARB, Hata Rajasa pernah
menimba ilmu disini.
Pendidikan Gratis itu Ternyata Ada
Yah, inilah judul tulisannya. Setelah merenungkan beberapa
tahun terakhir ini patutnya tulisan ini sudah lama saya buat. Baru ada
semangatnya sekarang, hehe.
Megutip perkataan salah satu dosen dan diamini oleh
mahasiswanya dalam kelas analitik, sebenarnya bukan gratis free, tapi
sebenarnya “dibayarin”, siapa yang membayarnya ? Negara dan yayasan tentunya.
Secarut marrut dan kacaunya negeri ini, saya masih warga Indonesia, dan harus
bangga pada negeri ini, setuju ?
Awal pendidikan saya dibayarin saat masuk ke Madrasah
Tsanawiyah (MTs) –setingkat SMP- di Darussalam. Sekolah saya ini terintegrasi
dengan pesantren, oleh karenanya banyak kawan-kawan sekolah yang berasal dari
luar daerah, jauh dan bermukim di pesantren. Enaknya saya, sekolahnya berada di
satu kampung dengan rumah saya, jadi tidak perlu mukim di pesantren –istilahnya
santri kalong-. Program beasiswa yang saya dapatkan ketika itu namanya Bantuan
Operasional Madrasah (BOM). Karena nominalnya tidak terlalu besar, program ini
tidak dapat mencover biaya pondokan di pesantren, maka para santri ngalong
inilah yang mendapatkannya untuk biaya SPP bulanan ^_^.
Memasuki jenjang SMA, sebelum lulus MTs saya mendapat info
dari guru terdekat Pak Darsono Alnurr Siregar, ada SMA yang masih muda di
Tasikmalaya, namanya SMA Al Muttaqin. Yaps, SMA ini baru dua tahun dan saya
jadi calon angkatan ketiga saat itu. Dari profilnya, tampilan sekolah ini
begitu memikat, bangunan bagus (ya iya, kan baru) luas dan guru-gurunya jebolan
PTN ok (ITB, IPB, UNEJ dll) oia sebelum tes masuknya saya pernah ikut lomba di
sekolah ini, namanya ASC (Al Muttaqin Science Challenge) tapi ga masuk -_-“.
Skema yang ditawarkan namanya Penelusuran Siswa Prestatif
(PSP), ini adalah program tes masuk berbeasiswa. Saya daftar program ini
bersama rekan Egy Armand Ramdani. Untuk ikut mendaftar setidaknya nilai rapot
harus bagus, terus ada tes tulisnya juga semua pelajaran. Tesnya pilihan ganda
tapi soalnya diatas standar UN, masih inget pokoknya nilai yang kecil tuh
pelajaran Matematik yang dapet 5,25 yang lain lupa. Ada juga wawancaranya,
praktek ibadah dan bahasa. Untuk mendapatkan kursi beasiswa ini harus bersaing
dengan ratusan calon siswa lain se priangan timur. Zaman saya, saingan beratnya
tuh ada Nesacis, Nesa Banjar, nesatta, nedutas, panumbangan, cikoneng dll yang
kebanyakan sekolah favorit. Sempet minder juga awalnya ga bisa lolos. Tapi ya
nyoba aja, mumpung gratis. Hari berlalu dan pengumuman itu pun sampai.
Alhamdulillah saya masuk 1 dari 10 siswa yang dapet beasiswa ini. Dari
daftarnya, saya lihat anak-anaknya pada OK, saya berfikir kayaknya dengan masuk
sekolah ini dan dapet temen yang pinter, bakal ketularan pinternya atau
bersaing dengan kelasnya juga. Tapi what the xxxx dari ratusan yang daftar PSP
bareng saya, sampai daftar ulang dan ikut MOPD kok cuma saya sendiri dan
beberapa dari jalur lain. Dan baru nyadar, program beasiswanya itu Cuma memeloloskan
daku seorang. Yang lain mungkin karena orang pinter dari kota dengan keadaan
keluarga yang punya materi dan informasi juga memilih sekolah negeri yang sudah
terpercaya dibanding sekolah yang belum punya lulusan ini. OK lah fine itu
pilihan, yang penting beasiswanya dapat diperpanjang, asal prestasi baik, dan Alhamdulillah
dibayarin sampai lulus. Malah, sekolah ini pula yang menghantarkan saya masuk
ke Institut Teknologi Bandung dan dapet beasiswa ^_^.
Saya sama sekali tidak melirik sekolah negeri, atau mana pun
lagi. Emang dari sananya kuper, ndeso ga tahu informasi (risiko sekolah di kampung).
Andai saja pas MTs dulu, tahu yang namanya IC, saya pingin kesana. Atau Taruna
Nusantara, -_-“ yang saya tahu masuk kesana mahal dan semi militer. Tapi ya
emang jalannya kali ya udah harus disini. Bersama kawan-kawan 13 saja
seangkatan. Tapi, dengan sedikit ini kami jadi sangat dekat ^_^.
Setelah lulus SMA, masuk ITB juga dapet beasiswa. Saya masuk
2008 jalur USM (yang dikenal mahal) tapi ada jalur beasiswanya juga. Profesi
bapak saya sebagai staf BCA (Bangunan can anggeus) masuk kriteria ini. Setelah
berjibaku dengan sulitnya soal USM (yang PG-nya sampe J) juga LJK yang isiannya
ga bulet, tapi oval (ga ngerti kenapa gini), sampe koran angka di sesi terakhir
yang bikin stress kalo udah ada saingan seruangan yang ngacung minta tambah
kertas. Ya, kalo mengingat-ingat masa perjuangan itu sesuatu banget. Beasiswa
USM pun saya dapatkan berupa pembebasan uang pangkal dan semesteran. Zaman saya
belum ada BIUS, Bidik Misi atau lainnya yang mengcover biaya hidup juga. Tapi Alhamdulillah
untuk biaya hidup tahun pertama dapet dari donator yang baik hati. Tahun kedua
sampai tahun keempat saya dapatkan beasiswa dari Ancora Foundation, lembaga filantropi
Pak Gita Wirjawan (sayangnya ga foto bareng dahulu, dulu saya ga narsis). Karena
kecelakaan, saya cuti satu semester sehingga lulus pun telat. Alhasil tahun
kelima cukup empot-empotan juga buat SPP, semester satu beasiswa Tugas Akhir
dari Pemprov Jawa Barat saya pakai untuk SPP (TA nya sudah dari pembimbing).
Semester 10 nya kepaksa ngerogoh kocek sendiri dan biaya hidup dapet dari
ngajar privat TPB di luar kampus. Akhirnya 30 Juni 2013 saya lulus juga. dan
saat ini masih berjuang untuk dapet beasiswa selanjutnya. Amin ,…
Minggu, 05 Mei 2013
25 SMA - MA TERBAIK DI PRIANGAN TIMUR (TASIKMALAYA, CIAMIS, GARUT, BANJAR)
Berdasarkan penilaian Badan Akreditasi Propinsi Sekolah/ Madrasah Provinsi Jawa Barat inilah dua puluh lima SMA terbaik di PRIANGAN TIMUR (TASIKMALAYA, CIAMIS, GARUT, BANJAR) :
| 1 | SMA AL-MUTAQIN TASIKMALAYA | 98.76 |
| 2 | SMA NEGERI 1 TASIKMALAYA | 98 |
| 3 | SMA NEGERI 6 GARUT | 97.9 |
| 4 | SMA NEGERI 3 TASIKMALAYA | 97.86 |
| 5 | SMA NEGERI 2 TASIKMALAYA | 97.65 |
| 6 | MAN DARUSSALAM CIAMIS | 97.44 |
| 7 | SMA NEGERI 2 CIAMIS | 97.39 |
| 8 | SMA NEGERI 1 CIAMIS | 97.39 |
| 9 | SMA NEGERI 1 BANJAR | 97.11 |
| 10 | MAN KIARA KUDA CIAWI TASIKMALAYA | 97 |
| 11 | SMA NEGERI 1 TAROGONG KIDUL GARUT | 96.73 |
| 12 | SMAN 1 SINGAPARNA TASIKMALAYA | 96.36 |
| 13 | SMA NEGERI MANONJAYA TASIKMALAYA | 96.21 |
| 14 | MAS AL AMIN TASIKMALAYA | 96.19 |
| 15 | MAN AWIPARI TASIKMALAYA | 96.18 |
| 16 | SMA NEGERI 1 PANGANDARAN | 96.16 |
| 17 | MAN SUKAMANAH TASIKMALAYA | 96.15 |
| 18 | MA NEGERI CIBEUREUM TASIKMALAYA | 94.81 |
| 19 | SMA Mardi Yuana BANJAR | 93.8 |
| 20 | MA AL MUNIROH TASIKMALAYA | 93.75 |
| 21 | MAS SERBA BAKTI TASIKMALAYA | 93.75 |
| 22 | MAN 2 CIAMIS | 92.24 |
| 23 | SMA NEGERI KARANGNUNGGAL TASIKMALAYA | 92 |
| 24 | SMA PLUS DARUSSALAM CIAMIS | 90.1 |
| 25 | SMA BPK PENABUR TASIKMALAYA | 89.33 |
Penilaian didasari beberapa standar, yaitu :
Standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar tenaga pendidik dan kependidikan, standar sarana dan prasarana standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.
Sumber : http://www.ban-sm.or.id
Jumat, 14 Desember 2012
Surat Malam Untuk Presiden, Dari Kumpulan Status Jadilah Buku
“Lebih baik dipenjara
karena menulis buku ini. Jika tidak ditulis, malah akan membuat terpenjara
selamanya.”
Panggung telah terisi
dua pembicara, yaitu Aat Suratin dan Tisna Sanjaya. Keduanya hadir sebagai
pembicara bedah buku “Surat Malam Untuk Presiden”, karya Acep Iwan Saidi. Kursi
yang berjejer depan panggung awalnya masih sepi pengunjung. Bedah buku ini terlaksana
Rabu (3/10) di Gedung Landmark Jalan Braga, Bandung. Diskusi bedah buku ini
dimoderatori Dian Galuh Purba.
Beberapa menit berlalu,
peserta diskusi sudah cukup ramai mengisi kursi yang disediakan. Lebih kurang
lima puluh orang pendengar hadir di diskusi ini. Belum termasuk pengunjung
pameran buku yang datang sebentar, atau mendengar sebagian-sebagian saja. Bedah
buku ini merupakan rangkaian kegiatan Pameran Buku Bandung 2012.
Buku ini ditulis
pengarang yang katanya hasil dokumentasi ratusan status Facebook. Tentunya,
status yang dibuat merupakan hasil tulisan yang terkonsep terlebih dahulu.
Status facebook yang oleh beberapa orang dijadikan dijadikan sebagai tempat
curhat, mengeluh, dan meluapkan perasaan yang sedang dirasakan. Tapi penulis,
menjadikannya sebagai penyampai kritik dan pemikiran dalam kehidupan sosial
yang cerdas dan bernas. Bagi penulis, menulis status Facebook, seperti melulis
buku. Karena, ternyata perlu referensi pula untuk tulisan statusnya itu untuk
menanggapai beberpa komentar orang yang serius. Oleh karenanya, membaca buku
ini, pembaca seperti diajak berdialog dengan penulis statusnya. Jangkauan
bahasan buku ini pun menjadi meluas karena orang yang menanggapi status.
Pembaca akan dimanjakan isi pikiran lain, tidak hanya pikiran si penulis.
Dalam bedahan buku ini,
Aat Suratin menekankan benar-benar kritik yang membangun dan kritik yang
menjatuhkan. Kritik yang bersifat empatif, bahasanya akan sampai ke hatinya
karena kritik terbit dari kejujuran. Berbeda dengan kritik yang emosional,
bukan malah akan memberikan perbaikan pada sasaran kritik, tapi malah semakin
menjadi.
Pemilihan sampul buku
berupa gambar mesin ketik, dimaksudkan bahwa suatu proses menulis dengan mesin
ketik, membutuhkan pola fikir sistemik yang terasah, disiplin, sehingga apa
yang akan dituliskan itu telah tersusun sebelumnya dan mengalir dengan baik
mengikuti alurnya. Mesin ketik pula, memiliki daya magis yang beda bagi
beberapa penulis.
Isi buku ini,
sebenarnya tidak hanya ditujukan kepada presiden semata, tetapi ditujukan pula
untuk para pemimpin lainya seperti gubernur, walikota, bupati dan pejabat
publik lainnya. Pemimpin di Indonesia sekarang, tidak cukup hanya dibekali
kemampuan manajemen yang baik, kemampuan ini mungkin perlu bila yang dipimpinya
pabrik. Tapi, seorang pemimpin di Indonesia apa lagi presiden, kemampuan yang
harus dimilikinya haruslah seperti konduktor. Kemampuan konduktor yang dapat
memainkan harmoni berbagai nada yang beda dan dari alat yang berbeda. Peran
inilah yang harus dimainkan pemimpin Indonesia untuk memimpin Indonesia yang
beragam ini.
Sosok pemimpin ideal
pun digambarkan penulis dalam buku ini bak metamor Arok dalam karya Pramoedya.
Sosok ini dilahirkan dari kaum bawah, satria, dan santun pada yang dipimpinnya
Tisna Sanjaya di sela diskusi
ini pula membacakan puisi yang begitu indah, sembari membagikan Pisang Raja
Bulu pada beberapa peserta yang hadir di bedah buku ini.
Sikap apa yang harus dibangun setelah
membaca buku ini ?
Orang yang membaca buku
ini dapat merdeka. Ibaratnya, buku ini seperti menjual benih, ketika kita telah
membelinya, maka benih itu adalah miliki kita, dan kita dapat mengambil manfaat
dari benih itu bila kita merawat dan menumbuhkannya dengan baik. Begitu pula
dengan buku ini, pembacanya akan dibekali benih untuk menumbuhkan tulisan yang
berkwalitas yang menjadi miliknya sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)







